Dapur MBG Tarakan Mengharap Suplai Dari Petani dan Nelayan Lokal


fakta99.com, TARAKAN – Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di kota Tarakan memiliki persoalan yang sangat kompleks meskipun program ini terealisasi sejak hampir setahun. Namun masih saja menimbulkan keluhan setiap harinya. Persoalan tersebut tidak terlepas banyaknya tantangan yang harus di hadapi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) masih terus bergulat dengan persoalan klasik lantaran ketersediaan bahan baku dan kemasan standar.

“Kami membeli dengan jumlah besar setiap hari. Wajar jika pasar lokal kaget akibat stok cepat menipis. Persoalan ini bukan semata mata menyangkut manajemen dapur tetapi memang kapasitas pasokan yang terbatas”, kata Ketua Yayasan Hidup Berbagi Kasih, Jakson Sitomorang, mewakili Kepala SPPG Juata Kerikil.

Ia juga menjelaskan bahwa situasi serupa terjadi pada konsumsi rutin bahan pangan tertentu seperti, telur, ayam, sayur mayur, buah. Ketika permintaan serentak meningkat dari puluhan dapur, pedagang di pasar tradisional akan kesulitan memenuhi kebutuhan dalam waktu cepat. “Dengan demikian kami berharap ada dukungan lebih lanjut dari pemerintah daerah kota Tarakan, baik dalam hal stabilisasi pasokan bahan baku maupun fasilitasi distribusi kemasan standar”. Kerja sama dengan petani, peternak dan nelayan lokal di nilai menjadi solusi jangka panjang agar kebutuhan di dalam program dapat terpenuhi serta berkelanjutan.

Selain bahan pengolahan MBG, persoalan kemasan juga menjadi tantangan tersendiri. Dari standar kemasan mika atau sistem vakum yang di anjurkan tidak selalu tersedia dalam jumlah tercukupi stok di Tarakan. Akibanya beberapa dapur mau tidak mau menggunakan kantong plastik sebagai alternatif sementara.

Di tambahkan Jakson, kondisi seperti ini terjadi karena permintaan kemasan meningkat tajam seiring berjalannya program MBG. Dan saat di lakukan pembelian dalam jumlah besar membuat cepat kehabisan stok di toko atau distributor lokal bahkan dalam waktu singkat harga melonjak naik. “Kami membeli stok dalam jumlah besar setiap hari. Wajar kalau pelaku pasar lokal kaget lantaran stok menipis drastis. Bukan semata-mata manajemen dapur melainkan memang kapasitas pasokan yang terbatas”, tutupnya.

Berita Terkait

Top